Arsip Kategori: Budaya

Pria Kristen Jadi Ketua Panitia MTQ di Alor


Amran Olang (teropongalor.com)
Amran Olang (teropongalor.com)

BARU-BARU ini, persisnya 19 April 2016, Presiden Jokowi berbincang hangat dengan Perdana Menteri Inggris David Cameron, di Kantor PM Inggris, London. Dalam pertemuan itu, Presiden Jokowi mengatakan, “Sebagai negara muslim terbesar di dunia, Indonesia mempunyai peran untuk menunjukan kepada dunia bahwa dalam Islam, demokrasi dan toleransi dapat beriringan.” (Tempo.co)

Jokowi benar. Dan dia menyebut Islam, karena mayoritas penduduk Indonesia adalah penganut Islam dan wajah Islam Indonesia yang sebenarnya adalah Islam yang toleran. Wajah asli Islam Indonesia dengan mudah bisa kita temui di Pulau Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Hosting Unlimited Indonesia

Lanjutkan membaca Pria Kristen Jadi Ketua Panitia MTQ di Alor

Kupang, Kota Dua Warna


Sunset di Pantai Lasiana, Kota Kupang, NTT (eddy mesakh)
Sunset di Pantai Lasiana, Kota Kupang, NTT (eddy mesakh)

BETA orang Kupang. Lahir, tamba besar, sakola dari SD sampe kuliah di sini. Kota Kupang tu ibukota Provinsi NTT, Nusa Tenggara Timur – bukan Nanti Tuhan Tolong apalai Nasib Tidak Tentu.

Posisi Kota Kupang ada persis di muka Teluk Kupang, sabla baratlaut Pulau Timor. Dia pung luas kira-kira 180,27 km2. Ini kota paleng besar, paleng rame, paleng bagaya di NTT. Kalo sonde salah, populasi sekarang kira-kira 450 ribu sampe 500 ribu jiwa. Ada banyak suku yang hidup di Kota Kupang, mulai dari Rote, Timor, Sabu, Flores, Alor, Kiser, Bugis, Tionghoa, Jawa, Bali, sampe orang keturunan Arab ju ada.

Dari sejarah yang beta pernah baca, kalo sonde salah awalnya Kupang pake nama “Nai Kopan”. Itu nama raja di sana tempo dulu sebelum bangsa Portugis masuk sekitar taon 1600-an. Tau ko sonde, Kupang tu termasuk kota tua. Waktu Belanda masuk, dong tetapkan tanggal 23 April 1886 sebagai hari jadi Kota Kupang. Belanda yang terbitkan batas-batas wilayah menurut Staatblad Nomor 171 tahun 1886.

Baca di Wikipedia, setelah Indonesia merdeka, Lanjutkan membaca Kupang, Kota Dua Warna

PNS Masih Ngopi saat Pegawai Swasta Supersibuk


Pagi ini, Selasa 19 April 2011, saya sudah disuguhi pemandangan amat kontras antara layanan publik oleh pihak swasta dan aparat negara (PNS) di kantor pemerintahan.  Ketika para karyawan kantor swasta sudah bekerja supersibuk melayani customer, para PNS di kantor pemerintahan masih supersantai di kantornya, bahkan masih banyak yang belum tiba di kantor mereka.

Lanjutkan membaca PNS Masih Ngopi saat Pegawai Swasta Supersibuk

Jadikan Lasiana Kampung Wisata


Pemandangan sunset dari Pantai Lasiana, Kupang, NTT.
Pemandangan sunset dari Pantai Lasiana, Kupang, NTT.

PANTAI  Lasiana di Kota Kupang dikenal sebagai destinasi wisata utama, setidaknya bagi masyarakat di daratan Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur (NTT). Sejak tahun enam puluhan hingga kini, pantai berpasir putih dengan lambaian nyiur dan jejeran pohon tuak (lontarBorassus flabellifer ) yang menawan itu senantiasa menjadi tempat melepas penat. Terlebih di akhir pekan maupun hari libur nasional, warga berbondong-bondong ke sana untuk menikmati panorama alam nan indah alami sembari menceburkan tubuh penat mereka di antara deburan ombak yang tak bosan membelai bibir pantai berpasir putih itu.

Lanjutkan membaca Jadikan Lasiana Kampung Wisata

Malaysia Berebut Kata “Allah”


NEGERI jiran Malaysia yang selama ini terkenal lebih aman dibanding Indonesia, dalam artian jarang terjadi konflik antarumat beragama, kini tercoreng oleh ulah sekelompok orang dengan melakukan pengrusakan dan pembakaran bangunan gereja.

Menurut laporan kantor berita Malaysia, Bernama, tiga unit gereja yang dibakar adalah Metro Tabernacle Church, Assumption Church,  dan  Life Tabernacle Church. Pelaku melempar gereja dengan bom molotov.
Pemicu aksi brutal itu hanya lantaran segelintir masyarakat  muslim Malaysia menolak umat selain Islam menggunakan kata “Allah” untuk menyebut nama Tuhan.

Mereka memprotes keputusan Pengadilan Tinggi Kuala Lumpur  yang menolak larangan bagi warga nonmuslim menggunakan kata “Allah” dalam literatur mereka. Pembatalan larangan yang telah berlangsung selama tiga tahun itu dikeluarkan pengadilan pada 31 Desember 2009.

Perdana Menteri Malaysia Datuk Seri Najib Tun Razak mengutuk tindakan rakyatnya lantaran perbuatan itu bisa menghancurkan keharmonisan negara tersebut. Najib menyatakan, pemerintah akan mengambil langkah-langkah apapun yang bisa mencegah tindakan-tindakan tersebut. Kepolisian Malaysia juga langsung meningkatkan pengamanan di gereja maupun tempat ibadah lainnya di seluruh negeri.

Menteri Besar Selangor, Tan Sri Khalid Ibrahim, langsung berkunjung ke Assumption Church, satu di antara gereja yang diserang. Dari tempat itu, dia memerintahkan polisi memberikan perlindungan pada semua gereja dan melakukan investigasi menyeluruh atas serangan di Assumption Church. Kecaman juga dilontarkan Ketua Pemuda UMNO, Khairy Jamaluddin dan berkata, “Perbuatan tercela itu bukan Malaysia yang saya kenal.”

Peristiwa seperti itu lebih sering terjadi di Indonesia. Tapi Pemerintah Indonesia terkesan lebih acuh dibanding sikap Pemerintah Malaysia. Lepas dari sikap negara terhadap persoalan sensitif seperti itu, kita sebagai umat beragama sesungguhnya tidak perlu memperdebatkan hal-hal seperti ini. Mengapa kita harus berkelahi hanya demi memperebutkan kata “Allah” untuk menyebut nama Tuhan?

Partai PAS Malaysia yang berhaluan Islam justru sepakat dengan keputusan pengadilan. Alasannya, semua agama Samawi, termasuk Kristen dan Yahudi, berhak menggunakan kata Allah. Sebaliknya kelompok penentang, termasuk Gerakan Pemuda Muslim Abim, bersikukuh bahwa penggunaan kata Allah oleh kelompok Kristen adalah upaya agama tersebut membujuk warga muslim untuk meninggalkan agama Islam.

Padahal ini hanyalah persoalan bahasa. Kata “Allah”  berasal dari bahasa Arab dan telah diserap oleh bahasa Melayu dan bahasa Indonesia, sejak ratusan tahun silam. Bahkan, penganut Kristen berbahasa Arab sudah menggunakan kata “Allah” untuk menyebut Tuhan, sejak zaman dahulu kala.

Umat Islam di Indonesia justru lebih baik dan tidak pernah mempersoalkan hal seperti ini.  Semoga “pertengkaran” di Malaysia tidak merembet sampai ke Indonesia. Bukankah itu hanya persoalan bahasa sebagai alat komunikasi? Bahkan sebutan untuk Tuhan berbeda-beda di berbagai negara.

Negara berbahasa Inggris menggunakan kata “God”, bangsa Israel menggunakan kata “Yahweh” (YHWH), Italia menyebut “Dio”, Prancis menyebut “Dieu”, Jerman menyebut “Gott”, Vietnam menyebut “Chúa”, Albania menyebut “Zoti”, Turki menyebut “Tanri”, dan sebagainya. Sehingga tidak perlu diperdebatkan sampai harus menimbulkan pertikaian.

Bila Gus Dur, sang “Bapak Pluralisme” masih hidup, dia akan menanggapinya secara jenaka, “Begitu aja kok repot.”(*)