Arsip Kategori: Pendidikan

Selamat Jalan Sang Penakluk


HANYA sehari jelang tutup tahun 2009, Sang Khalik memanggil pulang “Sang Penakluk”. Abdurrahman Wahid alias Gus

Gus Dur
Gus Dur

Dur, tutup usia pada pukul 18.45 WIB di  Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Rabu 30 November  2009.

Menurut situs Wikipedia, Gus Dur terlahir dengan nama Abdurrahman Addakhil. “Addakhil” berarti “Sang Penakluk”. Tak diragukan lagi, pria kelahiran Jombang, 4 Agustus 1940 ini adalah sosok luar biasa dan sangat dihormati di negeri ini, bahkan di level internasional. Berbagai penghargaan dari masyarakat internasional menjadi bukti perjuangannya.

Kebesaran nama Gus Dur bukan lantaran dia pernah menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia (20 Oktober 1999 – 23 Juli 2001) atau karena dia pernah menjadi Ketua Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU). Namanya harum karena selalu berpihak kepada pihak yang lemah dan teraniaya. Dia adalah tokoh bangsa yang terus mendorong dialog antaragama. Bahkan menimbulkan kontroversi karena pernah menerima undangan mengunjungi Israel pada Oktober 1994.

Dia juga dikenal sebagai sosok yang tak pernah berhenti memperjuangkan hak asasi manusia (HAM). Gus Dur memiliki keberanian luar biasa dalam membela kaum minoritas. Gus Dur berjuang bagi kaum minoritas melalui berbagai aras. Dia tak pernah berhenti mengkritik praktik politik di masa Orde Baru hingga sekarang.

Gus Dur adalah sosok yang luar biasa. Dia memiliki keterbatasan dalam penglihatan, namun hatinya dapat melihat dengan terang aneka ketidakadilan yang dihadapi masyarakat. Dia tak pernah berhenti memperjuangkan hal itu hingga akhir hayatnya. Satu yang paling dikenang adalah ketika dia membela umat beragama Konghucu di Indonesia dalam memperoleh hak-hak mereka yang terpasung selama era Orde Baru. Dia ditahbiskan sebagai “Bapak Tionghoa” atas perjuangan itu. Dia menentang keras rancangan undang-undang (RUU) Anti Pornoaksi dan Pornografi yang juga ditolak berbagai kalangan di negeri ini.

Gus Dur telah wafat, namun kiprahnya terus berlanjut sampai hari ini, melalui The Wahid Institute yang dipimpin putrinya, Yenny Zannuba Wahid. Institusi ini baru saja meluncurkan laporan Kebebasan Beragama dan Kehidupan Keagamaan 2009, hasil monitoring di 11 wilayah di Indonesia, antara lain di Provinsi Banten, NTB, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Jawa Tengah, dan Yogyakarta.

Hasil monitoring itu mendapati ratusan kasus pelanggaran HAM dan tindakan intoleransi oleh negara melalui fatwa-fatwa yang menghambat kebebasan beragama di Indonesia. Wahid Institute membeberkan berbagai peraturan daerah (perda) yang bernuansa agama tertentu, misalnya qanun jinayah ataupun perda soal zakat di beberapa daerah dan hampir 100 kasus tindakan intolensi yang dilakukan oleh kelompok masyarakat.

Mungkin Gus Dur bukan seorang penakluk sebagaimana nama lahirnya. Namun dia adalah seorang pejuang tak kenal lelah. Sosok yang memiliki semangat, visi, dan komitmen dalam memperjuangkan kebebasan berekpresi, persamaan hak, semangat keberagaman, dan demokrasi di Indonesia.

Selamat jalan Gus Dur. Namamu selalu harum dan akan terus dikenang. Kami hanya bisa berharap, semoga akan lahir seorang Gus Dur yang baru guna melanjutkan perjuangan tiada akhir dari “Sang Penakluk”.(*)

Iklan

Kejahatan Remaja di Manado


TENTU saja kita terhenyak ketika mendapatkan fakta bahwa belasan remaja di Kota Manado tidak sekadar nakal, tetapi telah membentuk sindikat kejahatan dan melakukan berbagai aksi pencurian di rumah warga.

Kejahatan belasan remaja pria itu terungkap setelah seorang di antara kelompok itu mengalami “kecelakaan kerja” saat menjalankan aksinya di rumah warga, Perumahan Malalayang Indah, Lingkungan I, Malalayang, Kota Manado. (Tribun Manado, 5/10/2009).

Jari manis remaja yang masih berusia 18 tahun itu tersangkut di pagar besi karena mengenakan cincin. Panik karena aksinya bersama rekan-rekannya ketahuan pemilik rumah, remaja itu pun menarik paksa tangannya hingga jarinya terputus dan tertinggal di tempat kejadian perkara.

Kejahatan oleh kalangan remaja sangat berbahaya bila kita gagal mencegahnya sejak sekarang. Kali ini mereka hanya mencuri dan kabur ketika ketahuan. Tapi lain kali, bisa saja mereka bertindak nekat bahkan secara sadis menghabisi korbannya bila merasa terdesak. Dan siapa saja bisa menjadi korban keganasan kelompok kejahatan tersebut.

Dalam amatan kami, ketika matahari mulai terbenam hingga larut malam, banyak remaja dan muda- mudi di Kota Manado “berkeliaran” di berbagai sudut kota. Tidak sedikit di antara mereka menebar bau alkohol dari mulut dan tubuhnya. Belum lagi mereka yang teler oleh narkotika dan obat-obatan terlarang. Mungkin ini merupakan satu di antara pemicu para remaja terjerumus dalam tindakan kejahatan.

Polisi membekuk remaja itu bersama seorang rekannya ketika sedang menjalani perawatan di RS Prof Kandouw. Polisi juga berhasil meringkus beberapa rekan para pelaku yang tergabung dalam satu kelompok. (Tribun Manado, 6/10/2009).

Kami angkat jempol untuk petugas kepolisian yang berhasil mengungkap kasus ini hanya beberapa jam setelah kejadian, serta mampu membongkar sindikat kejahatan yang melibatkan belasan remaja. Namun, kami menduga masih ada pelaku lainnya serta otak di balik kelompok kejahatan tersebut. Sebab, berdasar penyelidikan polisi, ternyata kelompok tersebut sudah beberapa kali melakukan aksi pencurian.

Kejahatan oleh kelompok remaja tersebut merupakan persoalan sangat serius. Menggambarkan bahwa ada kelompok generasi penerus di kota ini yang tidak sekadar nakal, tetapi mereka telah menjelma menjadi para pelaku kejahatan serius!

Tanpa bermaksud menyalahkan pihak manapun, namun kami melihat adanya proses pembiaran oleh orangtua para pelaku kejahatan tersebut. Model pembinaan seperti apa yang selama ini diberikan terhadap anak-anak mereka? Apakah anak-anak itu sekadar dilahirkan lalu dibiarkan bertumbuh mengikuti liarnya lingkungan pergaulan mereka sehari-hari?

Selain orangtua masing-masing, persoalan ini menjadi tanggungjawab kita semua. Pemerintah, para guru, dosen, pendeta, imam, polisi, media massa, dan sebagainya. Mari kita sama-sama, bahu-membahu menyelesaikan persoalan ini. Apalagi kejahatan itu dilakukan oleh para remaja, anak-anak kita sendiri.

Jangan sampai Manado yang sangat terkenal sebagai kota yang diberkati, berganti rupa menjadi kota yang kacau-balau, penuh dengan aksi kekerasan dan kejahatan terorganisir. Apalagi kota ini sedang mengampanyekan diri sebagai kota pariwisata dunia tahun 2010. Wisatawan mana yang sudi berkunjung ke daerah yang angka kriminalitasnya tinggi?(*)

Perhatian Mahasiswa UI untuk Rakyat Miangas


MASYARAKAT Pulau Miangas, Sulawesi Utara, bersyukur mendapat bantuan listrik tenaga surya (solar cell) dari program Kuliah Kerja Nyata (KKN) mahasiswa Universitas Indonesia (UI). Memang selama ini mereka sudah bisa menikmati penerangan listrik, namun terbatas selama delapan jam sehari, antara pukul 17.30 -01.30 Wita.

Tak lama lagi, sebanyak 700-an warga di pulau paling utara Indonesia yang berbatasan langsung dengan Filipina itu bakal menikmati aliran listrik lebih lama, berkat bantuan dari dari 71 mahasiswa peserta KKN UI tersebut. Pembangkit listrik tenaga matahari itu sedang dalam proses pemasangan di pulau seluas 210 hektare itu.

Bagi kami, para mahasiswa tersebut sangat membanggakan, karena teknologi tersebut adalah hasil inovasi mereka sendiri dan telah melalui proses uji coba di berbagai tempat. Tak sekadar membangun pembangkit listrik, para mahasiswa juga memberikan pelatihan kepada masyarakat mengenai bagaimana merawat peralatan tersebut. Ini sebagai bentuk pendidikan bagi rakyat agar mandiri.  Artinya, bila mereka tetap ingin menikmati hasil dari teknologi itu, maka mereka harus mampu merawatnya sendiri.

Para mahasiswa UI itu juga mendirikan perpustakaan bernama “Rumah Cerdas” bagi masyarakat. Perpustakaan tersebut dilengkapi ratusan buku mengenai pemanfaatan potensi perikanan dan kelautan serta cara bercocok tanam. Juga memberi bantuan bibit sayuran yang akan diujicoba di pulau tersebut.  Selain itu, mereka menggelar diskusi partisipasif dengan masyarakat setempat. Menggali permasalahan langsung dari masyarakat, menganalisisnya, lalu berupaya mencarikan jalan keluar. Termasuk meneliti kopra yang merupakan komoditas utama di Pulau Miangas.

Perhatian dan pengabdian mahasiswa UI yang terletak jauh di Ibukota Jakarta, bersedia jauh-jauh datang ke Pulau Miangas untuk menjawab kebutuhan rakyat terpencil, patut diberi apresiasi. Apalagi Pulau Miangas merupakan satu di antara “benteng”  di perbatasan Indonesia dengan negara lain.

Terlihat ada kesadaran di kalangan mahasiswa, dosen, dan pimpinan universitas terkemuka di Indonesia tersebut, bahwa masyarakat terpencil sangat membutuhkan perhatian dan uluran tangan. Seperti masyarakat Pulau Miangas yang sangat bergembira menyambut uluran bantuan tersebut. Ungkapan terima kasih itu disampaikan Bupati Talaud, dr Elly Lasut. Dia berterima kasih atas kepedulian Universitas Indonesia yang mampu melihat kebutuhan masyarakat di daerah terpencil.

Program pengabdian bertajuk “pemberdayaan pesisir pulau terluar” itu adalah yang pertama. Artinya akan ada angkatan-angkatan berikutnya dari UI yang akan melakukan pengabdian serupa di pulau-pulau terluar lainnya di Indonesia yang berjumlah hampir seratus.

Provinsi Sulawesi Utara juga memiliki sejumlah universitas besar dan terkemuka, baik universitas negeri maupun swasta. Tentu kampus-kampus di Sulut juga telah memiliki perhatian serupa terhadap masyarakat pesisir di pulau-pulau terluar. Sangat dinantikan program-progam pengabdian masyarakat oleh kampus-kampus di Sulut seperti yang dilakukan Universitas Indonesia di Pulau Miangas, maupun pulau-pulau sekitarnya di wilayah Kabupaten Talaud dan Kabupaten Sangihe. (*)

Kasus David: Polisi Singapura Belum Berani?


Keluarga David tiba di Singapura, Senin 2 Maret 2009. Inzet: David
Petugas dari KBRI mendampingi keluarga David tiba di Singapura, Senin 2 Maret 2009. Inzet: David

KAMIS 2 April 2009, persis satu bulan kematian tragis David Hartanto Widjaja. Mahasiswa Nanyang Technology University (NTU) Singapura  itu tewas sejak Senin 2 Maret 2009 lalu. Sebagaimana janji kepolisian Singapura, hasil autopsi terhadap jenazah almarhum akan diumumkan satu bulan setelah kematiannya. Sayang, sampai kemarin tak ada tanda-tanda mereka akan mengumumkannya. Apakah mereka belum berani?

Padahal, masyarakat Indonesia yang bersimpati pada nasib almarhum dan terus mengikuti perkembangan kasus tersebut, sangat menanti-nanti hasil autopsi itu. Bila Kepolisian Singapura menunda pengumuman lebih lama lagi, justru akan menimbulkan spekulasi yang lebih liar lagi.

Sayang, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) hanya bersikap menunggu. Katanya mereka sudah meminta kepada kepolisian di sana. Tapi tidak menjelaskan apa jawaban polisi mengapa hasilnya belum bisa diumumkan. Mudah2an KBRI memiliki cukup nyali untuk mendesak Pemerintah Singapura segera mengumumkannya.

Satu hal lagi, sebagai wakil bangsa Indonesia di negeri itu, Kedutaan harus menunjukkan bahwa mereka pantas mewakili sebuah bangsa besar.  Artinya, mereka “tidak melipat ekor ke celah paha”  ketika berhadapan dengan polisi maupun Pemerintah Singapura. Kalau perlu mereka sedikit “menggonggong” supaya Singapura tidak memandang remeh mereka, yang artinya juga menganggap remeh bangsa Indonesia. Tidak meremehkan seluruh rakyat Indonesia. (*)

David Sempat Berteriak: “They want to kill me…”


* Iwan Piliang: Ini indikasi mafia industri

Seorang saksi menuturkan detik-detik menegangkan sebelum ajal menjemput David Hartanto Widjaja (21) pada Senin 2 Maret 2009 pagi.  Dia berlari karena dikejar oleh lebih dari satu orang. Ada indikasi lehernya ditebas lalu tubuhnya dijatuhkan dari lantai empat kampusnya, Nanyang Technology University (NTU).

Darah pada paper yang tergeletak di ruang kerja Prof Chan. Paper inikah penyebab kematian tragis mahasiswa jenius asal Indonesia itu?
Darah pada paper yang tergeletak di ruang kerja Prof Chan. Paper inikah penyebab kematian tragis mahasiswa jenius asal Indonesia itu?

BENARKAH David bunuh diri setelah menusuk pembimbing skripsinya, Prof Chan Kap Luk? Atau justru sebaliknya, malah dia yang dihabisi? Indikasi mengarah ke kemungkinan kedua, yakni David dibunuh. Berbagai kalangan berharap pengumuman hasil autopsi oleh polisi Singapura hari ini, Kamis (2/4/2009),  benar- benar objektif atau sesuai dengan fakta sebenarnya.

Ketua Tim Verifikasi kasus kematian David, Iwan Piliang menduga David dibunuh. Dia mengungkapkan hal itu melalui tulisnnya dalam blog Kompasiana, setelah berbincang dengan Hartono Widjaja, ayah David, saat diskusi diadakan oleh Christivita Wiloto, Selasa (17/3/2009), pukul 13.30 WIB.

Sebelum ajal menjemputnya, David sempat berteriak ketakutan karena dikejar oleh beberapa orang dari ruangan Prof Chan Kap Luk (45) di jurusan Electrical Engineering, tempat David berkonsultasi mengenai tugas akhirnya. “They want to kill me, they want to kill me… they….” teriaknya. Kemudian dia tewas bersimbah darah.

Ayah David menuturkan, seorang perempuan pekerja di NTU menyaksikan  peristiwa itu. Tapi dia tak mengira itu sebuah teriakan minta tolong. Justru dia menyangka itu hanya sebuah adegan bercanda.  Perempuan itu menceritakan hal itu kepada ayah David di kampus NTU pada Senin 2 Maret 2009 sore.
Namun dia enggan mengungkapkan nama perempuan itu. “Jika saya sebutkan nama wanita itu kepada Anda, akan dibunuh pula wanita itu kini,” ujar Hartono kepada Iwan Piliang.

Sayangnya kepolisian Singapura tidak memperbolehkan pihak keluarga yang ditemani pihak Kedutaan Indonesia di Singapura, melihat jasad David. Alasannya masih diautopsi.”Keesokan harinya saya kembali. Anak saya badannya dililit plastik, dibalut macam mumi plastik bening. Tetapi saya melihat lehernya diplester, ada tiga baris plester,”tutur Hartono.

Tanggal 3 Maret, kedua orangtua David di Singapura, diminta membuat keputusan cepat, mengkremasi

Jenazah David dikremasi di Singapura, hanya sehari setelah tewas. Keluarga merasa diarahkan agar buru-buru mengkremasi jenazah almarhum. Fakta apa yang hendak disembunyikan Singapura?
Jenazah David dikremasi di Singapura, hanya sehari setelah tewas. Keluarga merasa diarahkan agar buru-buru mengkremasi jenazah almarhum. Fakta apa yang hendak disembunyikan Singapura?

jasad atau membawa pulang ke Indonesia. “Entah mengapa kala itu, dalam keadaan kalut kami memutuskan mengizinkan kremasi,” kenang Hartono. Matanya berkaca. Seakan ada penyesalan di sana.

Sebagaimana dugaan banyak kalangan, Iwan juga menduga ada pihak yang ingin merebut hasil penelitian David. Ada konspirasi berlatar kepentingan ekonomi di balik kasus ini. Tugas akhir David berjudul “Multiview acquisition from Multi-camera configuration for person adaptive 3D display.” Riset David berhasil menemukan komponen yang bisa menayangkan obyek 3 dimensi yang bisa tayang di udara. Semacam hologram tiga dimensi yang bisa hidup di udara.

Kemampuan membuat gambar visual tiga dimensi yang bisa tayang ke udara bisa dimanfaatkan untuk teknologi intelijen, di mana sosok orang digital bisa diprogram masuk ke ruang tertentu, dipantau melalui kamera CCTV, gerakannya dipandu pemindai gerak (motion capture); dapat mengirim data, suara, layaknya manusia benaran yang sedang kita perintah bekerja.

Hasil penelitian ini juga bisa berguna bagi televisi 3 dimensi masa depan, yang dapat ditonton kasatmata, tanpa kacamata khusus. Jika benar itu yang ditemukan, implementasinya bisa macam-macam. Kita bisa saja mengganti resepsionis di kantor dengan orang 3D, bukan manusia utuh.

Penelitian si penggemar game virtual itu itu mirip riset yang pernah dilakukan Lucas Art & Co. Perusahaan ini pernah melakukan riset tentang teknologi tiga dimensi (3D) visual untuk kepentingan iklan, yang mampu tampil di udara. Itu artinya, software animasi 3D, sederhananya, yang semula hanya bisa membuat model dan tayang di komputer atau cuma direkam ke format film dan video, lalu bisa ditayang di udara.

Dalam tulisannya yang lain di blog Kompasiana, Iwan menduga pembunuhan David terindikasi melibatkan mafia industri. “Ini indikasi mafia industri,” tulis Iwan.

Proses tewasnya David pada Senin 2 Maret 2009 di Kampus NTU Singapura. Benarkah seperti ini?
Proses tewasnya David pada Senin 2 Maret 2009 di Kampus NTU Singapura. Benarkah seperti ini?

Dia menjelaskan  bahwa riset David tentulah belum sampai ke arah persenjataan jarak jauh itu.  Tetapi perhatian dan risetnya yang spesifik, bisa menguraikan ke penemuan lebih jauh optimalisasi aplikasi OpenCV bagi kamera pengintaian tiga dimensi (3D), yang dapat digabungkan dengan back office internet berkepatan tinggi. Back office itulah antara lain yang digarap David.

Menurut ayahnya, penelitian David sudah mencapai 90 persen final saat diserahkan kepada Prof Chan. Dia memang ‘menghilang’ selama dua minggu, khusus untuk menyelesaikan riset itu. Kemudian flash-disc-nya diserahlkan kepada Prof Chan, sebelum dia menemui ajal dengan cara mengenaskan pada hari itu. Kini seluruh bahan hasil penelitian itu berada di tangan polisi dan Prof Chan. Sebab, laptop David juga disita polisi Singapura.

Akan verifikasi
Penuturan petugas kebersihan di kampus NTU bahwa David berteriak, “They want to kill me…”akan diverifikasi oleh sekelompok penggiat citizen journalism asal Indonesia yang dipimpin Iwan Piliang. “Kalau kita dapat siapa ‘they’ itu, maka ceritanya bisa panjang,” kata Iwan, koordinator tim verifikasi saat memberikan keterangan pers di Jl Raden Saleh, Cikini Jakarta Pusat, Rabu ( 1/4/2009 ).

Mereka meragukan kesaksian seorang mahasiswa asal Iran bahwa dirinya melihat David menusuk punggung Prof Chan. Hal itu dinilai tidak  mungkin karena Prof Chan duduk di kursi bersandaran tinggi. Sementara kursi itu tidak rusak dan tidak ada bekas darah pada kursi itu.

Menurut Iwan, tim verifikasi itu terdiri atas 12 orang blogger dan 30 orang anggota komunitas INV (Intelligent Network Video). Mereka akan menggunakan jalur-jalur informal untuk melakukan verifikasi, lantaran tidak ada dukungan KBRI di Singapura dan Kedubes Singapura di Jakarta. “Jalan yang kita tempuh informal, sebab kalau formal seperti TVOne ditolak mentah-mentah oleh Pemerintah Singapura,” kata Iwan.

Kematian David kian misterius, apalagi dua staf peneliti asal Cina dari kampus yang sama juga tewas, yakni Zhou Zheng (24) dan Hu Kunlun.  Sejumlah pihak menduga tiga kematian itu bertalian.  Keluarga David sudah berusaha melapor ke Mabes Polri, namun tanggapannya sangat mengecewakan.

“Seharusnya laporannya di Singapura karena kasusnya di sana,” kata Juru Bicara Polisi, Abubakar Nataprawira. Alasan dia, Indonesia tidak memiliki perjanjian ekstradisi dengan Singapura, sehingga tidak mungkin Polri ikut campur.(sumber:kompas.com/kompasiana)