Arsip Kategori: Pers

Tribun Manado Paling Banyak Dibaca di Sulut


“Melalui wawancara, saya juga menemukan jawaban yang tidak meragukan, Tribun Manado memang yang  terbesar di Sulut.” (WILDAN PRAMUDYA A, Peneliti LP3ES)

Cover Tribun Manado
Cover Tribun Manado

SEBUAH pengakuan yang patut disyukuri.  Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) bersama Serikat Penerbit Suratkabar (SPS), melalui survey yang digelar pada 23 Juni 2009 sampai 29 Juni 2009, menyatakan harian pagi Tribun Manado sebagai koran terbesar dan paling disukai pembaca di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut). Tim survei LP3ES menetapkan margin of error (tingkat kesalahan) sebesar 1,7 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Metodologi survei tersebut merepresentasi pendapat masyarakat pembaca media cetak di 15 kota, dalam kelompok pembaca remaja (usia 12-18 tahun) dan dewasa (di atas 18 tahun). Sampel yang diambil sebanyak 2.971 responden.

Wildan Pramudya A, peneliti LP3ES yang dimintai konfirmasi melalui telepon, Sabtu (22/8/2009), membenarkan hasil survey LP3ES tersebut.  “Hasil  survey ini tidak terbantahkan. Itu hasil survey yang saya lakukan sendiri dan sudah didiskusikan di LP3ES,” kata Wildan.

Wildan menegaskan, “Melalui wawancara, saya juga menemukan jawaban yang tidak meragukan, Tribun Manado memang yang  terbesar di Sulut,” ujarnya. Dia menambahkan, “Tribun Manado memang luar biasa. Saya mendengar sendiri waktu ke Manado banyak yang mengakui kok.”

Menurutnya, hasil yang menunjukkan Tribun Manado sudah market leader hanya dalam waktu sangat singkat, memang  luar biasa. Koran grup Kompas-Gramedia ini memang baru terbit per 2 Februari 2009. “Tribun Manado sangat  cepat mendapat kepercayaan dari masyarakat. Ini sangat luar biasa,” ujarnya.

Hasil survei LP3ES bekerjasama dengan SPS, telah disampaikan Direktur Eksekutif SPS Pusat Asmono Wikan dalam bentuk executive summary bertajuk: “Studi Perilaku Masyarakat dalam Mengkonsumsi Media Massa”  dalam Rapat Kerja SPS di Hotel Millennium, Jakarta, Kamis (20/8/2009).  Raker dihadiri seluruh pengurus SPS se-Indonesia.

Anggota tim riset LP3ES, Hendrajit saat mempresentasikan hasil survei menyatakan, keberadaan surat kabar di Indonesia diperkirakan mampu bertahan sampai 15 tahun ke depan, karena beberapa keunggulannya dibanding media lain, seperti televisi, radio, maupun online. “Patut disyukuri, tapi tidak boleh euforia karena ke depan tetap bisa rawan,” kata Hendrajit.

Peneliti Senior Komunitas Peneliti Garuda (KPG) Yogyakarta, Max Wilar, menilai kompetisi media cetak di Sulut semakin ketat. Itu merupakan dampak dari semakin majunya arus informasi di zaman ini sekaligus berdampak positif bagi pendidikan masyarakat.

“Saya melihat kompetisi media cetak di Manado semakin ketat. Hal ini tentu saja membuat kualitas media cetak semakin baik, dan Tribun Manado melakukan hal itu dengan baik sekali,” ujar Max, Sabtu.

Max menambahkan, dengan semakin baiknya kualitas Tribun Manado, hal tersebut tentu saja menguntungkan masyarakat

Tribun Manado
Tribun Manado

Sulut dari segi penerimaan informasi. “Dengan adanya pemberitaan yang berkualitas maka lebih banyak jendela informasi yang diperoleh oleh masyarakat,” katanya.

Menurut Max, indikator penerimaan masyarakat terhadap Tribun Manado antara lain masyarakat tetap membeli koran ini sekalipun harganya naik dari Rp 1.000 per eksemplar menjadi Rp 2.000 per eksemplar. “Tribun Manado memberikan kontribusi buat masyarakat tentang informasi dari berbagai sumber,” ujarnya.

Selain itu, menurut Max, pemberitaan di Tribun Manado mempunyai informasi yang lebih terbuka dan luas. “Saya harap lembaga yang ini mampu memberikan pemberitaan yang semakin berkualias,” katanya.

Menurutnya, koran yang menggunakan tagline “Spirit Baru Kawanua” ini  lebih memiliki karakteristik yang berimbang dan tetap menjaga kesantunan dalam pemberitaan. “Saya harap hal tersebut dapat meningkatkan kemajuan masyarakat ke depannya,” ujar Max.(*)

Menurut Hendrajit, surat kabar memiliki keunggulan dibanding media lain, yaitu kedalaman berita serta kearsipan yang membuat masyarakat tetap tertarik. Survei yang digelar di 15 kota, menggunakan sampel yang dipilih secara acak distratifikasi tak proposional pada masing-masing kota, seimbang secara gender dan kategori remaja dan dewasa.

Iklan

Ada Comberan di Mulut Rizal Mallarangeng


SAYA tidak habis pikir menyaksikan perilaku Rizal Mallarangeng. Dalam pandangan saya, orang ini sangat berbahaya. Mulutnya sangat tajam dan tak segan-segan melukai perasaan orang lain. Dia juga sangat tega mengeksploitasi isu agama demi kepentingan politik.

Kasus penyebaran tulisan pada Tabloid Monitor Indonesia ketika kampanye Jusuf Kalla di Medan, Sumatra Utara, benar-benar dimainkan oleh Rizal. Dia memaintenance berita tabloid tersebut bahwa istri Boediono, Ny Herawati, sebagai penganut Katolik.

Rizal terus-menerus menyodorkan isu tersebut kepada publik. Dia mati-matian mempertahankan isu itu. Dia seolah-olah sedang memperjuangkan keberagaman. Dia mengira masyarakat Indonesia terlalu bodoh sehingga tak memahami maksud di balik sikap dan ucapan-ucapannya.

Terakhir, Juru Bicara Timkamnas SBY-Boediono itu melontarkan ucapan sangat kasar terhadap media massa. Ucapan Rizal sebenarnya tidak pantas dilontarkan oleh seseorang bergelar doktor lulusan Amerika Serikat.

“Monitor Indonesia itu kan comberan. Itu koran kuning. Saya berkeberatan jika comberan bisa masuk ke acara Pak JK, yang juga wapres, dan tidak ditegur,” ujar Rizal di Makassar, Rabu (1/7/2009).

Rizal juga terus-menerus menuntut permintaan maaf dari Jusuf Kalla (JK). Alasannya, JK membiarkan Adi Ginting menyebarkan fotokopian berita di Monitor Indonesia saat kampanye tertutup. “Kami masih menunggu permintaan maaf dari penanggung jawab tertinggi acara, yaitu Pak JK,” tegasnya.

Rizal bahkan mendesak JK untuk segera minta maaf saat jumpa pers di Hotel Imperial Aryaduta, Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu.  “Katanya JK bisa lebih cepat, kok lama sekali pertanggung jawabannya. Kenapa hal segampang ini ia tidak mau menjelaskan, bagaimana saya bisa percaya dia mampu memimpin negeri ini,” ungkap Rizal.

Sungguh sesuatu yang aneh, mengapa Rizal tidak melaporkan pemberitaan Monitor Indonesia ke Dewan Pers untuk diproses sesuai UU Pers? Menurut saya, Rizal tidak akan melaporkan tabloid tersebut, karena Rizal dan kelompoknya memang sengaja me-maintenance isu tersebut. Makanya ketika ditanya soal mengapa tidak menggunakan hak jawab, dia justru berkelit dengan mengatakan tabloid itu comberan.

“Ketika comberan (tabloid Monitor) itu masuk ke ruang wapres dan mengotorinya, saya sebagai warga negara ini merasa keberatan,” kilah Rizal.

Di sini terlihat bahwa Rizal seolah-olah menghormati JK sebagai wapres, namun kenyataannya dia terus menyudutkan dan memaksa JK meminta maaf untuk sesuatu yang tidak diketahui dan sama sekali tidak diperbuat oleh JK. Saya kira media massa harus berhati-hati terhadap orang ini jika tidak ingin disebut comberan. (*)

Alumni SD Indonesia Jadi Presiden AS


* Celetukan Segar Jusuf Kalla

BUKAN Jusuf Kalla namanya kalau tidak melontarkan joke-joke segar yang mengundang tawa. Seperti ketika bertemu bos Kompas-Gramedia, Jakob Oetama, di mabes Kompas, Jl Palmerah Selatan, Jakarta, Kamis (25/6) siang.

JK melontarkan joke, saat santap siang bersama Pak Jakob dan jajaran petinggi Kompas, yakni Redaktur Senior Agus Parengkuan, Pemimpin Redaksi Rikard Bagun, Wakil Pemimpin Redaksi Taufik Miharja, Redaktur Pelaksana Budiman Tanuredjo, dan Wakil Redaktur Pelaksana Andi Suruji.  Sambil menyantap hidangan, JK memuji kualitas pendidikan Indonesia.

“Jangan pandang enteng pendidikan di Indonesia. Alumni SD di Jakarta saja bisa jadi Presiden Amerika. Alumni SD di Amerika enggak bisa jadi presiden di sini,” ujarnya disambut derai tawa peserta makan siang.

Tentu saja yang dia maksudkan adalah Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama yang pernah menghabiskan masa sekolah dasarnya di sebuah SD negeri di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.

Tak hanya itu, JK juga berhasil mengocok perut awak Kompas saat meramalkan nasibnya sendiri terkait Pilpres 8 Juli 2009 mendatang. JK menerawang nasibnya menggunakan nomor polisi mobilnya.

“Waktu pertama jadi menteri perdagangan, pelat nomor saya B 21, lalu jadi Menkokesra B 12, setelah jadi wapres B 2 (RI 2), tinggal B 1 (RI 1) saja yang belum,” kata JK disambut tepuk tangan meriah semua orang yang hadir di lantai 6 Gedung Kompas Gramedia. “Jadi hidup saya begitu, tinggal dibolak-balik saja,” sambungnya sambil terus tersenyum lebar.

Tak berhenti sampai di situ. Keyakinannya untuk meraih kursi RI 1 pun dapat dilihat dari lokasi kantornya selama menduduki jabatan di pemerintahan. Menurutnya, saat pertama kali menjadi menteri, ia memegang jabatan sebagai menteri perdagangan yang berkantor di Jalan Medan Merdeka Timur, depan Stasiun Gambir.

Lalu, pada kesempatan selanjutnya, ia mendapat kepercayaan menjadi menteri koordinator kesejahteraan rakyat yang kantornya berdiri di Jalan Medan Merdeka Barat. Saat ini, ketika menjalani tugas sebagai wakil presiden, Kalla berkantor di Jalan Medan Merdeka Selatan. “Jadi setelah ini, tinggal Medan Merdeka Utara yang belum,” ujarnya sambil kembali tertawa.

Di Jalan Medan Merdeka Utara, berdiri Istana Merdeka yang kini menjadi kediaman dinas Presiden RI, yang kini sedang dikejar oleh JK. “Jadi semua sudah terlihat,” katanya sambil terus bercanda.(sumber:kompas.com)

Usul KPU, Perpanjang Saja Kampanye Pilpres..!


KEPADA Komisi Pemilihan Umum (KPU), saya mengusulkan agar kampanye pemilihan presiden diperpanjang saja. Dan untuk ke depan, masa kampanye untuk pemilihan legislatif pun perlu diperpanjang lagi. Usul saya, bagaimana kalau masa kampanye pilpres dan kampanye legislatif dibikin lima tahun!

Saya yakin negeri kita akan cepat maju dan rakyat lebih sejahtera bila masa kampanyenya panjang. Mengapa? Karena rakyat memperoleh banyak manfaat di masa kampanye. Rakyat kecil memperoleh begitu banyak perhatian karena para elite sangat cepat tanggap terhadap berbagai persoalan yang dihadapi. Lihat saja manfaat yang sudah diperoleh rakyat belakangan ini.

Bila ada kasus mencuat, cukup sampaikan kepada wartawan untuk blow up media massa. Dijamin, pasti langsung mendapat tanggapan bertubi-tubi dari para pemimpin dan calon pemimpin. Kasus yang dialami Manohara Odelia Pinot dan Prita Mulyasari adalah buktinya. Demikian pula kasus penyerobotan batas wilayah di perairan Ambalat oleh Malaysia. Persoalan-persoalan bangsa ini akan cepat tertangani di masa- masa kampanye. Karena para elite tak sekadar komentar, tapi langsung mengulurkan bantuan hukum, mungkin juga dana, dan bantuan lainnya. Bantuan berdatangan bak hujan turun dari langit.

Para pemimpin dan calon pemimpin juga lebih rajin berkunjung dan menyapa rakyat kecil di pasar-pasar, di tempat-tempat kumuh. Suara para petani, nelayan, pengrajin, pedagang kaki lima, dan sebagainya, secara cepat mendapat respons. Para tokoh agama dan tokoh masyarakat pun lebih sering mendapat kunjungan dari para elite. Pokoknya, para elite politik menjadi sangat rajin turun ke bawah, juga menjadi sangat murah hati di masa-masa kampanye seperti ini.

Bukankah dengan begitu negeri kita akan cepat maju? Segala persoalan yang dihadapi bangsa ini lebih cepat tuntas, tidak berlarut-larut. Penegak hukum juga tidak berani macam-macam, karena begitu wartawan tahu, diberitakan, di-blow up, lalu sampai ke telinga para petinggi negara, langsung ada tanggapan. Tidak perlu melalui petinggi di masing-masing instansi/departemen terkait. Tidak akan ada penyelesaian persoalan yang tertunda-tunda. Presiden dan para elite pasti langsung turun tangan…. selesai! Asyik kan? (*)

Stop Press Pertama Tribun Manado


* Koran Terbit dalam Dua Versi Berbeda

Tribun Manado edisi 27 Mei 2009 versi pertama
Tribun Manado edisi 27 Mei 2009 versi pertama

WAKTU sudah menunjukkan 02.15 Wita. Proses produksi sudah selesai dan mesin cetak sudah mulai menggiling. Satu gulungan kertas sudah ludes menjadi koran Tribun Manado. Saya bersama Pemred Richard “Opung” Nainggolan, dan redaktur Syarief Dayan, bergerak pulang, kembali ke mess di Winangun, Kota Manado.

Baru kira-kira satu kilometer dari kantor, kami melihat ada asap membubung tinggi, lidah api menjulur, seperti hendak menjilat langit. Ada kebakaran hebat di kawasan Kairagi, persisnya di perumahan Pemprov Sulut.  Dayan yang mengemudikan mobil, langsung menepi. Saya spontan melompat turun dan langsung berlari ke lokasi kebakaran. Dayan dan Richard menyusul di belakang. Agoes Soemarwah (Manager Produksi) yang mengendarai sepeda motor juga berhenti.

Ternyata bukan hanya satu rumah yang terbakar. Ketika kami tiba, sudah tujuh rumah ludes. Posisi rumah seperti barak, tipe deret, sehingga api mudah berpindah dari satu rumah ke rumah lainnya di sisi sebelah kiri maupun kanan. Dua mobil  pemadam kebakaran tak kuasa melawan ganasnya amukan si “jago merah”.

Api merambat dengan cepat. Kurang dari 15 menit, dua rumah lagi menjadi sasaran amukan. Api sudah menjilat atapnya dan rupanya di loteng sudah berbunyi “kletak-kletak”. Sudah sembilan rumah dilalap api. Saya menelepon Steddy Pude, redaktur yang biasa tidur di  kantor. Meminta agar dia segera mengirim seorang fotografer ke lokasi.

Saya sendiri langsung ikut sibuk membantu warga yang rumahnya sudah mulai terbakar. Bersama penghuni rumah, kami mengangkat keluar kursi, tempat tidur, televisi, komputer, dan sebagainya. Tapi saya heran, mengapa dari sekian banyak orang, nyaris tidak ada yang ikut membantu? Ratusan orang yang berada di lokasi itu seperti sedang menyaksikan pertunjukkan. Mereka hanya menonton dari pinggir jalan. Tampaknya solidaritas masyarakat sudah mulai luntur. Entahlah.

Setelah itu saya bergerak ke ujung satunya. Atap rumah di ujung itu juga sudah mulai terbakar. Saya masuk rumah itu, ikut mengangkut barang-barang bersama penghuni rumah. Seorang ibu tua, kira-kira 50-an tahun, menangis sambil berjalan memasuki rumah itu. “Tolong ambe Mami pe pakaian dalam di kamar. Ambil jo baju-baju sadiki biar Mami bisa pake,”ujar ibu itu kepada seorang pemuda. Mungkin itu anaknya.

Saya langsung meminta ibu itu keluar. Khawatir dia jatuh atau bisa saja tertimpa reruntuhan dari loteng. Apalagi lantai rumah sangat licin karena sengaja disiram untuk meredam api. Seluruh dinding rumah itu juga sudah basah disiram air. Saya masuk ke kamar bersama pemuda itu. Udara di dalam rumah sudah sangat panas. Gemerutuk kayu terbakar hanya dua meter di atas kepala kami.

Setelah keluar membawa baju-baju yang diminta si ibu, suaminya datang. “Tolong ambe Papi pe tivi di kamar, jo,”ujarnya kepada anaknya. Saya kembali bersama pemuda itu masuk rumah. Saya menggigit handphone di mulut, sebagai penerangan. Kebetulan handphone saya ada senternya. Kami masuk ke kamar yang lain. Letaknya di belakang, dekat dapur. Untuk masuk kamar itu, kami harus berbelok ke kanan, ke kiri, baru ke kanan lagi. Sementara dapur sudah mulai terbakar.

Pemuda itu mengangkat televisi 16 inchi itu dari meja. Tampaknya dia panik sehingga tidak mencabut kabel pada stop

Tribun Manado Edisi 27 Mei 2009 versi kedia dengan berita "stop press" di banner.
Tribun Manado Edisi 27 Mei 2009 versi kedua dengan berita "stop press" di banner.

kontak. Ketika hendak keluar, televisi hampir jatuh karena colokkan listrik dan kabel antena masih terpasang. Untunglah kami berhasil keluar dari rumah itu. Ketika di ruang tamu, saya melihat api sudah menjilat plafon rumah itu.

Saya menelepon Pemred Opung, “Pung, berani nggak stop press?” Beliau menjawab, “Berani. Lakukan saja!” Opung  langsung menelepon manajer percetakan untuk mematikan mesin. Sementara saya melihat Rizky Adriansyah, fotografer kami, masih sibuk menjepret. Saya mendekatinya dan mengajak dia balik ke kantor. Ketika tiba di kantor, mesin cetak sudah stop.

Dengan kemampuan pas-pasan dalam menata halaman koran, saya mulai merombak halaman. Maklum, layoutman sudah pada cabut dari kantor. Saya mulai mencabut satu berita dan memasang foto-foto kebakaran. Kemudian menulis stright news empat alinea mengenai kebakaran itu. “Kebakaran Hebat Landa Kairagi”.

Opung Richard dan Dayan pun tiba di kantor. Bersama-sama kami merombak halaman satu. Waktu sudah menunjukkan pukul 03.00 dinihari. Tapi lantaran kemampuan teknis saya agak payah, akhirnya kami menelepon Freddy Tumboh (layoutman) segera ke kantor untuk merapikan halaman itu. Kurang dari satu jam, semua siap dan proses pencetakan dilanjutkan.

Hasilnya, Tribun Manado edisi Rabu 27 Mei 2009, terbit dalam dua versi berbeda. Satu versi menggunakan berita di banner tentang penyerobotan kapal perang Malaysia di Blok Ambalat dan versi lainnya menggunakan berita “Kebakaran Hebat Landa Kairagi” dengan cap “Stop Press”.

Kami kembali ke lokasi kebakaran dengan membawa beberapa eksemplar koran baru. Saya dan Marwah membagikannya kepada warga di lokasi kejadian. Mereka terkejut, “Berita kebakaran so terbit di koran Tribun Manado. Cepat sekali ya,” kata orang-orang itu. Mereka berkerumun, berebutan melihat foto dan membaca berita mengenai kebakaran itu. Mereka heran karena berita sudah ada di koran ketika petugas pemadam kebakaran masih sementara berjibaku menjinakkan amukan si jago merah. Petugas baru berhasil mengatasi kebakaran setelah 12 unit rumah ludes terbakar.

Paginya, Tribun Manado tampil beda dari semua koran yang terbit di Sulawesi Utara. Hanya Tribun Manado yang memuat berita tersebut. Kami puas, karena Tribun Manado selangkah lebih maju dibanding semua koran yang terbit di Sulut.(*)