Arsip Kategori: Wisata

Jadikan Lasiana Kampung Wisata


Pemandangan sunset dari Pantai Lasiana, Kupang, NTT.
Pemandangan sunset dari Pantai Lasiana, Kupang, NTT.

PANTAI  Lasiana di Kota Kupang dikenal sebagai destinasi wisata utama, setidaknya bagi masyarakat di daratan Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur (NTT). Sejak tahun enam puluhan hingga kini, pantai berpasir putih dengan lambaian nyiur dan jejeran pohon tuak (lontarBorassus flabellifer ) yang menawan itu senantiasa menjadi tempat melepas penat. Terlebih di akhir pekan maupun hari libur nasional, warga berbondong-bondong ke sana untuk menikmati panorama alam nan indah alami sembari menceburkan tubuh penat mereka di antara deburan ombak yang tak bosan membelai bibir pantai berpasir putih itu.

Lanjutkan membaca Jadikan Lasiana Kampung Wisata

Iklan

Manado Kota Ternyaman Kedua se-Indonesia


MASYARAKAT Kota Manado patut berbangga. Berdasar penelitian Ikatan Ahli Perencana (IAP), Kota Tinutuan merupakan kota paling nyaman nomor dua untuk dihuni. Urutan pertama ditempati Yogyakarta.
IAP merupakan organisasi profesi bidang perencanaan wilayah dan kota. Organisasi ini melakukan penelitian bertajuk ‘Indonesia Most Liveable City Index 2009’.

Penelitian ini untuk mengukur tingkat kenyamanan tinggal di kota berdasarkan penduduk kota tersebut. Penelitian ini diharapkan menjadi masukan bagi pemerintah daerah dan ‘stakeholder’ kota lainnya untuk meningkatkan tingkat kenyamanan penduduknya.

Tujuan penelitian ini bukan menyatakan satu kota lebih baik dari kota lain, namun merupakan pendapat objektif warga yang tinggal di kota. Sedangkan indeks kenyamanan berdasar pendapat objektif warga yang tinggal di kota masing-masing.

Ada 25 kriteria yang dinilai dalam penelitian itu, antara lain kualitas penataan ruang, jumlah ruang terbuka, kualitas angkutan umum, perlindungan bangunan sejarah, kebersihan, pencemaran, kondisi jalan, fasilitas pejalan kaki, kesehatan, pendidikan, air bersih, jaringan telekomunikasi, pelayanan publik, hubungan antar penduduk, listrik, dan fasilitas rekreasi.

Menurut Sekjen IAP, Bernadus Djonoputro, perkembangan kota berbanding terbalik dengan tingkat kenyamanan, padahal seharusnya tidak demikian. Penelitian IAP dilakukan di 12 kota besar dan sedang di Indonesia. Hasilnya, indeks persepsi kenyamanan pada 12 kota masing-masing Yogyakarta (65,34), Manado (59,9), Makasar (56,52), Bandung (56,37), Jayapura (53,13), Banjarmasin (52,61), Semarang (52,52), Medan (52,28), Palangkaraya (52,04), Jakarta (51,9), dan Pontianak (43,65).

Jika dirata-ratakan, indeks 12 kota tersebut hanya 54,17 dari nilai tertinggi 100 atau sangat nyaman. Nilai 54,17 tersebut masih berada di antara nyaman dan tidak nyaman. Hanya Yogyakarta yang bisa dikatakan cukup nyaman. Bahkan, didapat hasil bahwa semua kota belum memberikan fasilitas yang memadai bagi penyandang cacat.

Tapi kita patut berbangga karena Kota Manado menempati posisi kedua dalam penelitian tersebut. Seluruh warga kota pun ikut berbangga atas prestasi ini. Namun ada harapan bagi para pengelola kota, dalam hal ini Pemerintah Kota Manado, agar terus memperbaiki pelayanan dan pembenahan fasilitas publik agar Kota Tinutuan menjadi lebih nyaman bagi penghuninya. Ini juga bisa dijadikan indikator menyukseskan program Manado Kota pariwisata Dunia 2010.

Lebih daripada itu, indeks tersebut menjadi sebuah standar bagi pemerintah daerah dalam berkomunikasi dengan warganya mengenai kenyamanan yang selama ini belum ada. Diharapkan pula indeks tersebut menjadi bagian dari perencanaan kota yang lebih bersifat dari bawah ke atas atau bottom up. Dengan begitu, warga kota akan merasa lebih memiliki, karena mereka juga dilibatkan dalam perencanaan kota tempat tinggalnya.(*)

Sulut Pecahkan (Lagi) Empat Rekor Dunia


Empat Rekor Dunia di Minahasa

  • Pagelaran massal musik bambu: 3.011 peserta
  • Pagelaran massal musik kolintang: 1.223 peserta
  • Instrumen musik kolintang terbesar: 8×2,5x 2 meter
  • Instrumen musik terompet terbesar:  Panjang 32 meter, diameter corong 6,8 meter

Permainan kolintang secara massal dalam pemecahan rekor dunia di Minahasa, Sabtu (31/10/2009). Foto:Dany Permana
Permainan kolintang secara massal dalam pemecahan rekor dunia di Minahasa, Sabtu (31/10/2009). Foto:Dany Permana

SPEKTAKULER..! Itulah pemandangan yang terpampang saat pagelaran kesenian secara kolosal bertajuk “Pentas 10 dari Utara” di Stadion Maesa Tondano, Minahasa, Sabtu (31/10/2009). Ribuan pasang mata tertuju pada pagelaran musik bambu dan pagelaran musik kolintang terbanyak di dunia.

Bahkan, perhatian dunia internasional pun ‘dipaksa’ kembali tertuju ke Sulawesi Utara (Sulut), persisnya ke Kabupaten Minahasa, di mana empat rekor dunia tercipta sekaligus!  Kini, Tanah Minahasa masuk sejarah rekor Guinness World Record (GWR) sebagai lokasi pertama dipecahkannya empat rekor dunia di bidang seni dan kebudayaan.

Empat rekor tersebut adalah rekor alat musik terompet raksasa, alat musik kolintang raksasa, pagelaran musik bambu, dan permainan kolintang terbanyak di dunia. Sebanyak 3.011 pemain musik bambu dan 1.223 pemain kolintang berhasil memenuhi standar yang telah ditetapkan pihak GWR, serta memainkan beberapa lagu berdurasi minimal lima menit. Pertunjukan musik itu dipadu dengan pertunjukan kesenian dari beberapa daerah di Sulut dalam rangkaian acara bertajuk “Pentas 10 dari Utara” tersebut.

Juri GWR asal Inggris, Lucia Sinigagliesi, tampak takjub terhadap budaya daerah Minahasa. “Amazing… wonderful..!

Terompet raksasa yang ditampilkan di Minahasa dalam pemecahan rekor dunia
Terompet raksasa yang ditampilkan di Minahasa dalam pemecahan rekor duni. Foto:Dany Permana.

(menakjubkan.. indah),” ujar perempuan asal Inggris itu berkali-kali, saat berkeliling lapangan Stadion Maesa Tondano dan memerhatikan kelompok kesenian asli Sulut yang akan tampil dalam acara pemecahan rekor dunia.

Dia juga terkagum-kagum saat berjalan  mendekati alat musik kolintang yang berjajar rapi di lapangan. Terlihat serius memerhatikan bentuk alat musik tradisional tersebut sembari menikmati alunan melodi yang indah dari alat musik berbahan kayu itu.

Lucia tak asing lagi bagi warga Sulut. Dia pernah datang ke Manado untuk mencatat pemecahan rekor dunia penyelaman dengan peserta terbanyak dan upacara di bawah laut di Manado dalam rangkaian Sail Bunaken 2009, Agustus silam. Tambahan empat rekor dunia dari bidang seni, nama Sulut kini tercatat sebagai lokasi pemecahan enam rekor dunia.

Dr Benny Mamoto SH MSi yang menjadi pemrakarsa kegiatan akbar tersebut, dalam sambutannya mengucapkan terimakasih untuk semua pihak yang telah bekerja menyukseskan acara itu. Lebih khusus ucapan terimakasih tersebut dialamatkan untuk Pemerintah Kabupaten Minahasa dan para aktivis kebudayaan yang telah menopang semua kegiatan pemecahan rekor dunia di Minahasa.

Dirinya menjelaskan, apa yang diperoleh semua masyarakat Sulut, khususnya Minahasa, adalah berkat Tuhan. Sejak awal rencana pemecahan empat rekor dunia ini terus mendapat dukungan dari semuah pihak, termasuk Julia dari

Juri GWR asal Inggris, Lucia Sinigagliesi (tengah), menyerahkan piagam rekor dunia kepada Kombes Benny Mamoto
Juri GWR asal Inggris, Lucia Sinigagliesi (tengah), menyerahkan piagam rekor dunia kepada Kombes Benny Mamoto. Foto:Dany Permana

GWR, sehingga tim Institut Seni Budaya Sulawesi Utara (ISBSU) tidak perlu jauh-jauh berangkat ke London, tapi pihak GWR yang mendatangi mereka.

“Terimakasih untuk semuanya. Tidak ada prestasi yang datang begitu saja, tapi harus dikejar. Apa yang kita dicapai teman-teman saat ini adalah buah dari kerja keras dari semua orang,” ujar Mamoto.(sumber:luc/tribun manado)

Diam-diam Malaysia Incar Kolintang


Kolintang, alat musik tradisional asli Sulawesi Utara (flickr)
Kolintang, alat musik tradisional asli Sulawesi Utara (flickr)

HARI-HARI terakhir ini kita dibikin naik pitam oleh kelakuan negeri tetangga, Malaysia, gara-gara mereka seenaknya menggunakan tari pendet karya almarhum Wayan Rindi, maestro tari asal Bali. Wajar saja kita kesalpada kebiasaan buruk negeri tetangga yang suka asal klaim itu.

Beberapa waktu lalu negeri serumpun itu mengklaim alat musik angklung, tarian reog ponorogo, batik, hombo batu, tari folaya, lagu Rasa Sayange, rendang Padang, dan sejumlah budaya lainnya. Tanpa izin dari yang punya dan seolah tidak tahu malu, mereka menggunakan produk budaya karya seniman Indonesia  dalam iklan pariwisata mereka.

Ternyata, diam-diam mereka juga tertarik “menggarap” musik kolintang asal Sulawesi Utara. Ini berdasar penuturan pemilik Sanggar Kolintang ‘Maesa’, Carolus G Tulung (48), kepada Tribun Manado, di kediamannya di Jl Sato Yoseph, Kleak, Manado, Selasa (25/8/2009).

Tulung menuturkan, seorang warga negara Malaysia pernah menawari  dirinya bersama sanggarnya untuk menggelar pertunjukan alat musik tradisional dari bambu itu di Malaysia.  Tawaran itu disampaikan ketika Tulung memimpin petunjukan kolintang di The Ritzy Hotel dan panggung hiburan Baystreet Bahu, tahun 2006 silam.

Pria Malaysia itu datang bersama grup musiknya dan kebetulan menginap di Ritzy Hotel. “Dia sempat memberikan kartu nama pada saya, dia mengaku manajer lembaga musik budaya di Malaysia,”tutur Tulung

Pria itu bahkan bersedia menanggung semua biaya transportasi dan semua kebutuhan Tulung cs selama berada di Malaysia. Namun Tulung menolak tawaran kerjasama itu, kendati ketika itu dirinya tidak terpikir mengenai sikap Malaysia yang sering mengklaim produk budaya Indonesia.

“Dia tawarkan kerjasama untuk kolaborasi dengan grup musiknya di Malaysia. Saya tidak meresponnya karena memang enggan. Selain itu, saya juga tidak kenal jenis musik di sana seperti apa dan budayanya bagaimana,” imbuh Tulung.

Mencuatnya kasus klaim Malaysia atas tari pendet asal Bali dan berbagai produk budaya Indonesia, membuat Tulung semakin sadar bahwa alat musik  tradisional asli Sulut itu juga harus segera dipatenkan agar tidak ditiru atau bahkan direbut oleh bangsa lain.

“Bagaimana pun, itu musik tradisional khas Sulut. Bahkan aset seni budaya Sulut. Tidak boleh dirampas atau dibiarkan negara lain mengakui miliknya,” ujar Tulung.

Dia berharap pemerintah memberi perhatian dan melakukan tindakan penyelamatan atau mematenkan alat musik kolintang maupun produk budaya Sulut lainnya, seperti lagu-lagu dan tari-tarian, agar tidak gigit jari setelah dicaplok bangsa lain. “Saya harap pemerintah jaga, perhatikan, dan pelihara aset budaya Sulut. Kalau tidak kita bisa kebobolan, dan dijadikan keuntungan oleh negara lain,”ujarnya.

Dia menambahkan, selain promosi pariwisata yang kurang, bila kita lengah, ditambah pencaplokan budaya secara terus-terusan oleh Malaysia, akan membuat wisatawan mancanegara justru menganggap produk budaya Indonesia sebagai milik Malaysia. Sebab, Malaysia sangat royal dalam mempromosikan pariwisata mereka. Mereka tidak hanya beriklan di stasiun televisi lokal, tapi juga stasiun televisi internasional seperti CNN.(*)

Malaysia Bikin Jero Wacik Jengkel


MENTERI Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia, Jero Wacik, benar-benar  hilang kesabaran terhadap sikap Malaysia yang doyan mengklaim maupun memanfaatkan budaya Indonesia untuk iklan pariwisata tanpa seizin Indonesia.

Usai rapat bersama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Kantor Presiden, Jakarta Pusat, Selasa (25/8/2009), Jero pun mengungkapkan kekesalannya.

Bagaimana tidak kesal. Malaysia seenaknya menggunakan tari pendet dalam iklan pariwisata mereka di program Discovery Channel berjudul “Enigmatic Malaysia”. Iklan ini merupakan judul dari enam film dokumenter yang diproduksi KRU Studios Production untuk memperingati kemerdekaan Malaysia.

Namun ketika Jero mempertanyakannya dan menyampaikan nota protes, Pemerintah Malaysia dengan enteng berkilah bahwa pembuatan iklan promosi itu tanpa sepengetahuan pemerintah dan tidak ada kaitannya dengan iklan pariwisata pemerintah.

Belakangan mereka mencabut tayangan iklan tersebut. Kemudian KRU Studios Production yang merupakan rumah produksi di Malaysia, menyampaikan permohonan maaf  kepada Jero sekaligus kepada Pemerintah Indonesia.

Namun permintaan maaf itu justru membuat Jero makin tersinggung, karena hanya disamaikan melalui surat elektronik (email). “Kok pakai email. Minta maafkan ada etikanya juga,”tukas Jero. Dia mendesak permintaan maaf langsung dari Pemerintah Malaysia atas klaim tari pendet itu. “Saya mau dengar dari pemerintahnya dulu,” katanya.

Pria asal Singaraja, Bali, itu menambahkan, kejadian semacam ini bukan yang pertama kalinya terjadi, dan rakyat Indonesia sudah sangat gondok karena Malaysia sering mengulangi kesalahan yang sama. “Dulu lagu Rasa Sayange, lalu lagu Indang Bariang, kemudian kesenian reog Ponorogo, dan sekarang tari pendet,” sesal Jero.

Menurut Jero, sikap Malaysia tidak etis dan melanggar kesepakatan. Dia menuturkan, dua tahun lalu Indonesia dan Malaysia telah menandatangani kesepakatan guna menghindari klaim budaya semacam itu. “Jika ada karya-karya budaya yang berada di grey area atau tidak jelas apakah milik Indonesia atau Malaysia, hendak dijadikan iklan komersial oleh salah satu pihak, maka wajib hukumnya untuk saling memberitahu,” ujar Jero mengenai isi kesepakatan tersebut.

Jero menyimpulkan bahwa Malaysia telah melanggar kesepakatan tersebut. Pelanggaran ini dinilai semakin parah, karena tari pendet dianggap Depbudpar tidak masuk ke wilayah abu-abu tersebut. “Jika tari pendet ditarikan di hadapan dunia, tidak ada seorang pun yang ragu bahwa tari itu berasal dari Bali,” tukasnya.

Sehingga dia menegaskan bahwa tari pendet jelas milik Indonesia dan Malaysia seharusnya meminta izin kepada Indonesia bila hendak menggunakan dalam iklannya.”Jelas-jelas ada pelanggaran etika di sana,” tegas Jero.

Padahal, Indonesia sudah berkali-kali melayangkan nota protes ke Malaysia terkait kebiasaan mereka mengklaim produk budaya Indonesia. Bahkan pada Asia Festival 2007 di Osaka, Jepang, Malaysia menggunakan lagu Indang Bariang sebagai budaya Malaysia.

Pada saat mengirim nota protes ke Kebudayaan Malaysia, kata Jero, Menteri Kebudayaan Malaysia mengatakan Malaysia menanggapi secara serius. Bahkan sengketa budaya ini dibahas dalam sidang kabinet Malaysia. “Menteri Pariwisata Malaysia kemudian diperingatkan untuk tidak menggunakan budaya Indonesia untuk komersial, tanpa izin,” ujar Jero.

Selanjutnya, terdapat Pertemuan Bilateral antara Indonesia dengan Malaysia, termasuk Presiden SBY dan PM Mohammad Najib. Pertemuan bilateral itu menggagas eminent persons group, yaitu grup yang terdiri dari para ahli untuk menangani kasus sengketa budaya Indonesia – Malaysia. Ternyata semua kesepakatan itu dilanggar oleh Malaysia.

Mungkin lantaran sikap Malaysia yang seenaknya itulah membuat  budayawan asal Bali, Putu Wijaya, menilai  Malaysia menantang Indonesia. “Ini sudah beberapa kali kejadian. Itu sama saja menantang, kenapa itu terus dilakukan,” ujar seniman senior Indonesia itu.

Putu menilai, tindakan Malaysia ini sangat mengganggu masyarakat Indonesia. Insiden yang terjadi berkali-kali itu sudah dianggap menantang dan mempermainkan perasaaan rakyat Indonesia. “Ini bukan hanya masalah budaya. Kami tersinggung,” kata pria yang banyak meraih penghargaan di bidang seni dari berbagai instansi ini.(*)