Uang 20 Ribu Saja kok Cerewet…!!!!


* Cerita biasa di Kantor Samsat

Bagi orang yang memiliki kendaraan bermotor (termasuk motor butut seperti milikku)… tiap tahun musti berhubungan dengan yang namanya Samsat. Soalnya STNK motornya musti diperbaharui biar gak ditangkap pak pulisi….maksudnya polisi lalu lintas di jalan raya. Lanjutkan membaca Uang 20 Ribu Saja kok Cerewet…!!!!

ATB dan Menguapnya THR Ku


INI benar-benar pengalaman pribadi. Baru-baru ini, kalo nggak salah pada hari JumatMain Pasir 13 Oktober 2006 lalu, meteran air di rumahku dicabut oleh dua petugas dari PT Adhya Tirta Batam (ATB). Ini nama perusahaan yang diberi konsesi air di Pulau Batam oleh Badan Otorita Batam (OB). Dicabutnya meteranku bukan karena nunggak…tapi lantaran meterannya ada bekas terbakar. Kacanya agak kehitam-hitaman.
Cilakanya, pada hari itu, anak bungsuku, Theo (itu yg fotonya kupasang), lagi sakit diare. Beolnya bisa sepuluh kali sehari. Yah, jadi kami memang lagi sangat butuh air yang banyak. Bisa Anda bayangkan to… klo ada orang diare begitu.
Aku agak panik dan sedikit marah. Aku coba kasih pengertian kepada petugas lapangan itu, terutama soal anakku yang lagi sakit diare. Tapi mereka tidak menggubris segala alasanku. “Wah, kami cuma petugas lapangan, pak. Tugas kami cuma mencabut meteran air ini,” kata petugas itu.
“Lagipula meteran ini bukan rusak secara “alami” (aku agak bingung dengan istilah ini). Dari kerusakannya (terbakar), kelihatannya meteran ini memang sengaja dirusak,” sambung petugas yang satunya lagi.
“Kalau bapak mau meterannya segera dipasang, sekarang juga bapak harus ke kantor kami, supaya segera diselesaikan,” kata petugas itu.
“Berapa biaya penggantian meteran ini?” tanya saya. “Akh, paling-paling dua ratusan (ribu). Tapi bapak bawa tiga ratus (ribu) saja. Buat jaga-jaga,” saran petugas itu.
Aku pun segera berkemas, tanpa mandi lagi karena air di bak mandiku yang kecil itu sudah tinggal setengah.Saya membawa uang sebanyak satu juta rupiah.
Sesampainya di kantor ATB, pas waktunya shalat Jumat. Yah, aku pun menunggu sampai pukul 14.00 WIB. Kemudian aku temui petugas pengaduan di ATB yang namanya Pak Sugeng. Saya menceritakan mengenai tujuan kedatangan saya. Juga menjelaskan bahwa kerusakan pada meteran itu bukan karena perbuatan saya. Sebab, rumah yang aku huni itu baru kubeli (over kredit) dari pemilik sebelumnya. Dan pada saat aku masuk, kondisi meteran air itu sudah seperti itu. Lagipula, selama ini pembayaran air gak pernah aku tunda. Selalu di bawah tanggal 10 setiap bulan. Bayarannya pun rasanya normal. Meski sesungguhya tidak seberapa normal karena tiap bulan paling rendah aku membayar sekitar Rp 150 ribu. Menurutku kemahalan alias tidak sesuai dengan banyaknya air yang kami gunakan. Tak lupa aku ceritakan mengenai anakku yang lagi diare.
Pak Sugeng menghitung-hitung di komputer, kemudian dia menyodorkan angka yang harus saya bayar. “Bapak harus membayar Rp 742 ribu. 300 ribu untuk harga meteran baru, sisanya adalah denda yang harus bapak bayar,” katanya, tanpa senyum sedikitpun. Juga tak ada garis-garis simpati di wajahnya terhadap saya.
Aku tetap berusaha menjelaskan kembali duduk persoalan mengenai rusaknya meteran itu. Tapi beliau kelihatannya tak mau ambil pusing. “Wah, ini sistemnya sudah begitu pak. Saya tidak bisa mengubah apa pun dari angka-angka yang ada di komputer ini,” jelasnya lagi. “Bapak harus bayar sekarang supaya bisa diproses, agar meterannya bisa dipasang hari ini juga,” katanya lagi.
Meski kesal, saya menuruti saja. Apalagi teringat anakku yang lagi diare. Untungnya saya membawa uang lebih, tidak seperti jumlah yang dianjurkan petugas lapangan tadi.
Setelah membayar di bank, saya menyerahkan bukti pembayaran kepada Pak Sugeng.
Untungnya lagi, saya baru saja menerima THR (tunjangan hari raya)dari kantorku, Tribun Batam. Jadi, ada sedikit uang lebih untuk pembayaran di luar budget ini. Yah… uang THR-ku pun berpindah tangan ke PT ATB. Menguap begitu saja, tanpa bisa aku nikmati untuk sedikit menyenangkan keluarga ku dengan uang itu.
Saya pun bertanya, “Kira-kira jam berapa meterannya bisa dipasang, pak?”
“Wah, kayaknya tidak bisa hari ini. Paling cepat hari Senin. Karena petugas lapangannya sudah pada pulang,” jawab Pak Sugeng.
Tentu saja saya marah. Tapi tetap berusaha menahan emosi. “Jadi Pak Sugeng tidak bisa bantu saya?” tanya ku.
“Bukan tidak bisa, pak. Tapi petugasnya tidak ada lagi. Proses administrasinya kan sudah saya bereskan,” jawabnya enteng.
Ya sudah kalo begitu. Gak apa-apa lah. Mendingan pulang saja daripada terus berhadapan dengan orang (di sebuah perusahaan besar)yang tidak memiliki simpati sedikitpun terhadap pelanggannya.
Sorenya, saya telepon langsung Kepala Bagian Humas ATB, Bapak Adang Gumilar. Saya minta tolong agar bagaimana caranya saya bisa mendapatkan air, mengingat anakku yang lagi sakit. Pak Adang bilang, “Bongkar aja, pak. Bagaimana lah caranya. Sudah bayar dendanya kan? Saya yang tanggungjawab” jawabnya di ujung telepon selulernya.
“Oke, makasih pak. Saya usahakan. Karena anak saya memang lagi sangat butuh air,” kataku.

***

Beberapa hari kemudian, saya temui Pak Adang Gumilar di ruang kerjanya. Saya ceritakan lagi mengenai riwayat rusaknya meteran air itu, yang mana saya tidak tahu-menahu kenapa bisa terbakar.
Beliau lalu mencari meteran itu dan memeriksanya. Kemudian dia meminta berkas-berkas tagihan saya tiga bulan terakhir pada petugas di kantor itu. Setelah diperiksa, kata Pak Adang, tagihanku tidak ada masalah. “Tagihannya normal kok,” katanya.
Tapi, ketika aku tanya mengenai kemungkinan uang THR-ku dikembalikan, kata Pak Adang tak mungkin. Beliau hanya bilang, “Yah, saya hanya bisa doakan agar Pak Eddy bisa dapat lagi rezeki yang banyak.”
Dia juga menjelaskan mengenai banyaknya meteran yang sengaja dirusak oleh konsumen. “Kami tidak jualan meteran pak. Itu bukan bisnis kami (ATB). Tapi dalam satu bulan paling sedikit ada 400 meteran yang rusak maupun sengaja dirusak. Juga menjelaskan mengenai kenapa pemutusan saluran dilakukan pada hari Jumat.
“Biar pelanggan itu tahu betapa pentingnya air. Nah, kalau diputus hari Jumat dan baru disambung lagi hari Senin, kan repot. Supaya pelanggan yang nakal bisa jera,” jelasnya, sambil tertawa.
Beliau juga memberikan sejumlah tips2 bagaimana sebaiknya orang yang menyewa rumah, membeli rumah, atau ketika menyewakan rumah, supaya lebih hati-hati.
Yah…akhirnya saya tetap pulang dengan tangan kosong. Uang THR ku tetap menguap, tanpa bisa kunikmati. Sialan.(edy mesakh)

mari katong bacarita

%d blogger menyukai ini: